Kecapi Borneo

 

kecapi borneo 1

Kindly invitation to visit http://kecapiborneo.wordpress.com for more post, see you :)

Jangan diam!

Cukup dikatakan sebagai penghianatan, orang yg mengetahui kebenaran tetapi diam.

Aroma basah, serak daun gugur, genangan air dan sisa mendung yg berarak pergi. Di kertas kuning catatan harian delapan tahun lalu oleh seorang wanita muda. Dia sedang bicara pada dirinya untuk suatu hari nanti. Kelak jika apa-apa yg telah kamu usahakan tidak dihargai, tidak mendapatkan tempat di mata manusia. Ingatlah, bahwa kesedihan yg kamu punya hari itu bukan lagi tentang dirimu. Jika yg kamu usahakan hari ini adalah kualitas hidup umat, sistem masyarakat yg dapat mencapai kehidupan madani, kontributor perkembangan ilmu dan teknologi. Jika yg kamu usahakan hari ini adalah kecemerlangan peradaban manusia. Maka ingatlah bahwa sifat manusia itu mudah salah, mudah lupa, suka membantah, tamak dan tidak pernah puas. Bersedihlah terhadap kebaikan dan kebenaran yg akan hilang dengan penolakan mereka. Resahlah dengan kejahilan yg niscaya. Suatu hari nanti saat kamu menjadi saksi terhadap kebenaran dan potensi kebaikan, jadilah hujjah. Jika kamu sampai pada hari itu, jangan diam.

Kyoiku mama ryosai kentro

Jika kalian wanita. Tidak mendidik kami dengan kebesaran jiwa dan ketinggian akhlak, anak-anak tak menemukan lagi kemanusiaannya” ~Ust. Faudzil Adhim

Salaam everyone,

Sudah berbilang waktu nggak update blog, apa kabar readers? Semoga sehat dan baik-baik saja ya. Well, terakhir kemarin dapet pesan wa dari acil (tante), nanyain kabar blog yg belum juga update, hehe. Maka baiklaah, ini drafting tulisan tahun lalu yg (semoga) sudah jauh lebih berbobot diterbitkan sekarang. Inspirasi judulnya diperoleh dari tulisan Ibu Septi Peni W, pendiri “Institut Ibu Profesional” (semoga keberkahan menyertai aktivitas beliau). Ini tentang peran kehidupan yg melekat pada eksistensi manusia, seorang wanita.

Bonus, sambil baca (Play) when you say nothing at all:

 

Kyoiku mama ryosai kentro

Diterjemahkan sebagai, “istri yg baik dan ibu yg arif”. Ini profesi terkeren dari wanita Jepang. Terkeren? Iya, karena para wanita Jepang yang menyandang jabatan istri dan ibu memiliki kesadaran yg tinggi terhadap perannya sebagai ibu rumah tangga. Semua pencapaian dalam kehidupan mereka, ilmu, kreativitas, kecerdasan dan keterampilan, didedikasikan penuh untuk keluarga ketimbang berkarir di luar rumah. Tidakkah sayang? Tentu saja tidak bagi mereka, mengasuh dan mendidik anak merupakan investasi terbaik sekaligus sebagai karir tertinggi bagi wanita Jepang. Begitulah, lalu jika kita melihat hasil didikan mereka, maka ibunya sungguh pantas dikagumi.

Itu kalau kita belajar dari wanita Jepang, bagaimana kesadaran mereka terlibat penuh di dalam menyiapkan pendidikan untuk dirinya sendiri. Kesadaran terhadap investasi berharga bernama keluarga yang akan menentukan sukses tidak karir hidupnya sebagai wanita, sebagai ibu.

Well, kemarin pagi di kelas evolusi, ada ulasan menarik tentang sebuah film berjudul, “Making Baby”. Film yg sebagian besar mengangkat tema kerusakan genetik dari kesalahan peletakan “kabel” materi genetik. Akibatnya, anak yg dilahirkan mengalami kejadian yg tidak biasa seperti kelainan sus-sum tulang dan otot-otot yg melemah seiring bertambahnya usia. Kelahiran anak-anak dengan kondisi tidak biasa ini justru menyentuh sisi kemanusian kita. Bahwa bentuk pekerjaan mengasuh dan mendidik anak bukan suatu hal yg dapat diandalkan pada sesuatu yg “alami” dan dapat “diwarisi” begitu saja. Ada proses evaluasi dan seleksi dari seluruh pengalaman hidup yg kita terima dari lingkungan. Lalu diolah dan disiapkan untuk mengasuh dan mendidik generasi sehingga lebih baik. Sehingga pola kesalahan di dalam pengasuhan tidak perlu terulang kembali serta keberhasilan metode mendidik dapat diteruskan dengan baik. Konsep pemuliaan dalam ilmu hayat berlaku (juga) di sini.

Selanjutnya tentang peran yg melekat pada wanita muslimah. Terdapat tiga peran yg berasal dari fitrahnya yaitu, al mar’ah shalihah, zaujatu mu’thiah dan ummul madrasah.

Al mar’ah shalihah, wanita shalihah. Shalihah baik dalam arti sempit maupun luas. Shalihah melingkupi segala aspek, dalam pemahamannya terhadap ilmu agama, akhlak yg menghiasi pergaulannya pada sesama, izzah dan iffah, termasuk bagaimana seorang wanita menjaga kehormatan dirinya dan kemuliaan orang tuanya. Shalihah dalam arti luas, pada tanggung jawabnya terhadap keilmuwan, pada karya dan prestasi, pada kontribusinya yg membersamai semua peran sosial yg menyertainya bermasyarakat.

Zaujatu mu’thiah, istri yg taat (ryosai kentro). Penjelasan disini yg secara garis besar disederhanakan sebagai pemenuhan kebutuhan mendasar bagi jiwa, fisik, pikiran. Membahagiakan disepanjang kehalalan, di dalam mengupayakan ketentraman hati (sakinah), pembentukan karakter positif diri dan keluarga, keselarasan ruhani (mawaddah), dan saling membantu pasangannya untuk mencapai family development (tarbawi) yg menjadi misi keluarga. Itu teorinya, dan istri yg taat dalam deskripsi Fahd berikut ini adalah istri yg cantik. Harus cantik? Iya :)

Berikut cuplikan nasihat dari penulis Fahd Pahdepie, tentang istri yg cantik.

Istrimu cantik bukan karena dia memiliki paras yg seperti bintang iklan. Dia cantik karena senyumnya bisa menerbitkan senyummu. Karena matanya yg berbinar membicarakan hal-hal yg ia sukai. Ia cantik karena semangat dan kepeduliannya menolong dan membahagiakan orang lain. Karena kebaikannya yg membuatmu selalu ingin menjadi seseorang yg baik. Dia cantik bukan karena hal-hal yg sifatnya sementara, namun karena kebeningan jiwa dan kemuliaan sikapnya. Karena apa saja yg ada dalam dirinya membuatmu bahagia dan selalu belajar mengucap syukur. Dan syukur adalah kata kerja. Istrimu cantik karena kau menjaga, merawat dan membanggakannya. Dia cantik karena kau mencintai dan menyayanginya, karena kau bersyukur telah menjadi bagian dari hidupnya.

(dikutip dengan sedikit perubahan)

Kita pinjam istilah istri yg cantik ini untuk penjelasan John Gray (relationship advicer), yg pada banyak tulisan, memberikan ulasan terfokus pada perbedaan kebutuhan mendasar dari wanita dan laki-laki serta komunikasi yg menyebabkan konflik keduanya. Terdapat paling tidak 6 kebutuhan emosional mendasar seorang pria dan wanita, dan berbeda tentunya. Pertama, pria butuh dipercaya sementara wanita perlu perhatian. Kedua, penerimaan yg dibutuhkan oleh pria dan pengertian itu penting bagi wanita. Ketiga, apresiasi atau penghargaan yg dibutuhkan pria sementara wanita butuh dihormati. Keempat, pria butuh kekaguman sementara wanita butuh kesetiaan. Kelima, sementara pria butuh disetujui, wanita butuh validasi atau penguatan. Keenam, pria butuh rasa percaya dan wanita butuh diyakinkan. Lalu penjelasan dari 6 prinsip di atas dilakukan oleh Gray dalam bentuk contoh. Sampai-sampai aku mengira Gray dan istrinya Lauren, menjadikan keluarganya sebagai laboratorium untuk eksperimen yg telah menyelamatkan banyak keluarga dari dampak konflik suami-istri. Penasaran? Saran aku, baca langsung bukunya :)

Ummul madrasah, ibu sebagai sekolah (kyoiku mama). Kualitas seorang ibu betul-betul menjadi modal terbaik dalam melahirkan generasi shalih-shalihah. Wanita Jepang rela menempuh pendidikan setinggi mungkin lalu berkarir sebagai ibu dengan pendidikan terakhir mereka yg rata-rata S1/S2. Jika wanita Jepang yg belum tentu seorang muslim saja memahami dan menggunakan prinsip hidup seperti ini, lalu bagaimana dengan seorang muslimah? Kita memiliki contoh yg lebih banyak tentunya. Ustadz Faudzil Adhim bercerita dalam bukunya, “Salahnya Kodok” tentang Fathimah, ibu yg melahirkan Imam Syafi’i, ia harus melahirkan dalam kondisi suaminya meninggal saat ia hamil tua, lalu lahirlah bayi yg telah ia kandung itu di jalur Gaza. Ketika anaknya berusia 2 tahun, Fathimah terlalu miskin untuk menyekolahkan anaknya. Yg tidak miskin, bahkan berlimpah adalah kekayaan kasih sayang dan keikhlasan hatinya untuk mendidik anak. Lalu atas kehendak Tuhan, tumbuhlah anak tersebut menjadi peletak dasar-dasar ushul fiqh. Sama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad juga lahir dari wanita besar, jiwanya besar, tekadnya besar, keberaniannya besar, perjuangannya besar dan tentu saja, pengorbanannya juga besar. Dengan demikian seorang ibu, jiwanya harus terdidik lebih dahulu dari sekolah-sekolah kehidupan.

Kemudian Abah Ihsan, founder Program Sekolah Pengasuh Anak, agak lucu karena ini progam sekolah yg diperuntukkan bagi orangtua, bagaimana mengasuh anak. Well, kutipan klasmen orang tua menurutnya itu begini, “Orangtua biasa, memberi tahu. Orangtua baik, menjelaskan. Orangtua bijak, meneladani. Orangtua cerdas, menginspirasi”. Kebayang kan, bagaimana proses kepengasuhan sehari-hari itu meningkat dari yg tadinya sekedar memberi tahu lalu dapat menginspirasi? Dialog yg seperti apa? Obrolan yg bagaimana? Cerita dan diskusi antara anak dan orangtua yg dapat menumbuhkan sisi terbaik anak.

Terakhir, ini (juga) kutipan nasehat bagus, haha jadi isi tulisan aku kali ini semuanya kutipan. Okelaah, kali ini tentang prinsip Dorothy dalam pengasuhan. Jika anak hidup dengan celaan, dia akan belajar memaki. Jika anak hidup dengan permusuhan/kekerasan, dia akan belajar membenci. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, dia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia belajar menyesali diri. Jika anak hidup dengan ejekan, dia akan menjadi pemalu. Tapi jangan putus asa. Jika anak hidup dengan toleransi, dia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri. Jika anak hidup dengan pujian, dia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan. Jika anak hidup dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyukai dirinya. Jika dibesarkan dengan penerimaan dan persahabatan, mereka belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Sudahlah, sampai sini aku tengah terharu, karena kangen ayah ibu, hoho. Tentu aku dan juga kita, harus bisa berhasil mendidik generasi supaya lebih baik lagi nantinya. Untuk Ayah, semoga aku dan kami dapat menjadi kebanggaanmu di bumi dan surga. Padamu Ibu, semoga hidupmu selalu berkecukupan bahagia. Waj’alni lil muttaqiina imama.

Intinya tulisan rangkuman kutipan kali ini, jangan pernah merasa puas belajar. Tapi bersyukurlah dan lanjutkan belajar. Semoga manfaat, salam semesta!

Children Learn What They Live

If a child lives with criticism, they learn to condemn.
If a child lives with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive,
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves,
If a child lives with ridicule, he learns to be shy.
But do not despair …
If a child lives with tolerance, they learn to be patient.
If a child lives with encouragement, they learn confidence.
If a child lives with praise, they learn to appreciate.
If a child lives with fairness, they live with justice.
If a child lives with security, they live to have faith.
If a child lives with approval, they learn to like himself.
If a child lives with acceptance and friendship.
they learn to find love in the world.
Dorothy Law Nolte

Referensi:

Web Institut Ibu Profesional

Rumah Tangga (Fahd Pahdepie)

Man Are From Mars Women Are From Venus (John Gray)

Yuk Jadi Orang Tua Shalih (Abah Ihsan)

Salahnya Kodok (M. Faudzil Adhim)

Children Learn What They Live (Dorothy Law Nolte)

Tulisan sebelumnya Women of Worth

Mengapa kuliah?

happy

Kalau dipikir-pikir, tujuan pendidikan itu dapat disederhanakan menjadi, “untuk membuat anak manusia mendapatkan sifat-sifat superiornya sebagai manusia”.

Ia diberkati dengan akal agar mampu mengembangkan ilmu dan pengetahuannya. Ia dibekali dengan daya karsa, untuk menciptakan karyanya. Dilahirkan dengan sepenuh jiwa, lalu pendidikan mampu menghaluskan budinya.

Melalui pendidikan, bertambah cerdas lah pikiran dan jiwanya, cemerlang karyanya, serta halus budinya. Dengan pendidikan, semakin mengenal lah dia dengan Tuhan-nya. Tahu akan tugas dan kewajiban yg melekat pada eksistensinya sebagai manusia. Jika keluar masuk sekolah tapi tetap saja tidak bertambah-tambah ketiga hal tersebut, mungkin saja dia berada di tempat yg sama sekali tidak tepat.

Dalam perjalanan menemukan guru-guru.

Kediri, 22 Januari 2016.

Endar Widiah Ningrum

Chamos and Milos: the battlefield doctor

Chamos dan Milos si APEL BUMI. Hadiah Tuhan untuk menyembuhkan rasa sakit. Tanaman ini yg dalam konsep edge effect-nya ekologi, tumbuh di pinggiran lahan pertanian.

Dia berasal dari Eropa, tersebar ke Afrika dan beberapa bagian Asia.
Peradaban Mesir Kuno membutuhkannya untuk mengawetkan mumi Fir’aun. Sementara dokter Yunani, Hippocrates, menggunakannya untuk terapi berbagai penyakit.

Kita mengenalnya dengan nama Chamomile, akar kata dari Chamos-tanah dan Milos-Apel. Dalam bahasa Indonesia dia dipanggil dengan Kamalia. Penyanyi legendaris kita Ebit G. Ade meminjam namanya untuk menyanyikan lirik lagu yg berisi bait-bait kegundahan akan impian, dialah “Camellia”. Dan kita hampir selalu mendapati hangatnya pelukan Chamomile ini terhadap para bunga, di dalam buket bunga saat wisuda, atau pada ucapan-ucapan selamat dan bahkan duka cita.

Chamos dan Milos, dia disebut apel bumi, karena tumbuh rendah di tanah dengan bunga-bunga mungil menyembul dan beraroma seperti apel.

Para alkemis dahulu berhasil menyuling minyak atsiri pada ekstrak Chamomile yg mudah sekali menguap tapi memiliki kekuatan menyembuhkan yg begitu hebat. Saat ini bahan aktifnya telah diketahui dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi, anti-mutagen, analgesik, antiseptik, antipasmodik, antioksidan merupakan obat penyembuh untuk banyak penyakit. Dalam kondisi segar, keberadaan tumbuhan ini di dekat tanaman yg sakit pun mampu menyembuhkan, dialah dokter tanaman.

Chamomile adalah hadiah dari Tuhan untuk menyembuhkan rasa sakit, meredakan kekhawatiran, menenangkan, dan menciptakan rasa nyaman. Dia hadiah dari Tuhan untuk menjaga kecantikan dan mempertahankan usia sel, hingga tubuh mampu menangkal radikal bebas, tetap segar dan muda.

Hadiah yg aku kira sengaja Dia kirim untuk manusia yg sedang menikmati medan masa muda. Berada di medan ini tentu penuh tantangan, mungkin juga rintangan sehingga membutuhkan ketenangan dan imunitas yg memadai,

dan sesekali penyembuhan :)

Well, tulisan selesai, bersama segelas kosong teh Chamomile, di Bogor hujan dan dingin. Selamat pulang kembali, iin :)

chamomile-flowers-summer-grass-herbs1st

Chamomile blossoms (Google search)

Note: Chamomile digunakan sebagai herba untuk mengobati kecemasan, insomnia, disminore, gangguan pencernaan, gastritis, diare, gangguan kulit, kolestrol. Sebagai herba untuk kecantikan dan anti-aging. Kalau masih penasaran, sila guna keywords: “Chamomile”, “herb medicine” untuk pencarian.

Ngomongin Nasi Delapan Juta

Remas sambal tempe teri1

Salaam everyone 😀

Kali ini baru beres ujian, mumpung masih anget-anget ini kepala jadi mau cerita, haha

Biasa denger kata valuasi ekonomi?

Paling nggak kalau suka nonton berita, adalah kata-kata ini disebut ketika menaksir total kerugian dari banjir wilayah X, kebakaran di lokasi Y, dampak kerusakan dari bencana ini dan itu. Intinya adalah usaha mendekati objektif untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang atau suatu jasa.

Nah, cerita sekarang nggak jauh-jauh nih dari valuasi ekonomi. Karena kuliah-kuliah kemarin membahas jasa lingkungan, jadi kurang lebih akan cerita seputar itu. Apa menariknya? Oke, simak ya :)

Percaya nggak, kebanyakan dari kita sedang membayar murah untuk tinggal di Indonesia. Tapi setelah ini mudah-mudahan, kita akan sama berpikir dua kali untuk membayar lebih mahal, dengan suka rela-semoga.

Negeri dengan iklim tropis ini menyediakan segala macam jenis buah tropis melimpah. Musim manggis yg sekilonya 10 ribu bisa jadi 15 ribu 2 kilo. Buah Duku, tarik harga turun sampai 7 ribu per kilo, dan hebatnya masih boleh ditawar jadi 5 ribu. Nah, kalau kita pindahin jadi kurs pounds sterling, nggak ada pecahannya tuh wkwk. Terus karena masih penasaran, jadi iseng buka market onlinenya Amazon.co.uk, lapak depannya menawarkan harga elus dada buat buah-buahan tropis. Sayangnya nggak nemuin harga Duku di sana, adanya rambutan yg ditawarkan seharga 37 £ atau 710 ribu dalam rupiah. Berikutnya Manggis dalam keadaan sudah di vacuum freeze dried seharga 14 £/oz (1 oz=30g) yg artinya kalau beli sekilo dikali kurs mata uangnya jadi senilai 8 juta 870 ribu RUPIAH.

Kalau dipikir, selain bangga karena kita punya buah tropis berselera harga yg tinggi, sisanya miris karena menyadari betapa cacahnya nilai mata uang kita di dunia Internasional. Berikutnya kasian juga mahasiswa kita di sana yg tentu saja nggak bisa seenaknya, “menikmati” musim rambutan, musim manggis atau pun duku. Karena mendadak miskin ketika baru berniat, “nengok” etalase toko buah tropis, kemudian berlalu sambil gigit jari.

Well, itu tadi mukaddimah. Sekarang garis besar valuasi ekonomi untuk ekosistem yg kita miliki. Ekosistem yg menyediakan manfaat langsung (tangibel) dan manfaat tidak langsung (intangibel) untuk kita.

Pernah dengar tentang rawa gambut? Di Sumatera dan Kalimantan Timur banyak nih, kalau kamu penasaran hoho. Kalau enggak, cukup baca cerita ini aja, ehehe. Kita punya 20,6 juta hektar rawa gambut, yg artinya kita punya aset rawa gambut terluas di dunia. Tempat minyak bumi bersarang anggun di bawah sana. Berikutnya, daerah aliran sungai yg dimiliki Indonesia, mirip seperti pembuluh nadi dengan perifernya saling bersambung itu, maka kayalah karena kita punya banyak sekali sungai. Ini yg membentuk ekosistem riparian menjadi penyuplai nutrien yg melimpah. Pentingnya apa? Tentu saja alam kita berbaik hati “seperti” penduduk negerinya, ia memberi makan dengan suka rela pada burung-burung yg singgah migrasi dari negara-negara tetangga. Sehingga saat lahan basah ini terkoyak sedikit saja, orang-orang di belahan dunia sana seperti Kanada menjerit, climate change, forest, and peatlands memaksa mereka mengirimkan bantuan dana dan nota kesepahaman untuk melindungi lingkungan hidup kita (CCFPI Project in Indonesia). Itu tadi contoh, berikutnya masih banyak lagi biaya pengelolaan lingkungan yg dibayarkan oleh negera-negara luar terkait perdagangan karbon, keanekaragaman hayati, dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Sepenting itu kah Nusantara? Tentu.

Sekarang kita masuk ke cerita inti, sabar sedikit dengan penjelasan ini ya, hehe. Kali ini benar-benar tentang valuasi ekonomi untuk ekosistem. Jasa lingkungan terhadap kita begitu besar. Dan sekali lagi, kita membayar murah atau bahkan tak-“berharga” sama sekali. Bagaimana bisa? Itu karena ekosistem kita menyediakan cuma-cuma berbagai manfaat, dari perlindungan tata air/hidrologi, pengendali volume air-erosi dan banjir, keindahan landskap, keunikan flora fauna lokal, sampai penyerapan dan penyimpanan karbon (carbon offset). Berikut kita mulai contoh kecil dari perhitungannya.

Familiar dengan istilah water footprint product? adalah volume air tawar yg digunakan untuk produksi suatu produk pertanian, yg diukur pada seluruh rantai suplai selama hidupnya (Hoekstra 2003). Nah, nilainya akan berbeda-beda antar jenis tanaman. Dan karena kita hampir selalu makan nasi, jadi aku ambil contoh padi nih ya. Sepanjang usia hidup padi, ia membutuhkan total air tawar yg berkisar pada 3.473 kubik per ton. Karena kita makan nasi dengan jenis yg berbeda-beda, jadi anggap saja nilai water footprint padi varietas x adalah sebagaimana di atas. Sehingga untuk memproduksi 1 kg beras dibutuhkan 2800 liter air tawar. Apabila kita gunakan air PDAM Bekasi yg harganya masih Rp 3.800/kubik, maka untuk memproduksi 1 kg beras kita harus membayar air seharga Rp 10.640,- dan ini belum termasuk harga bulir berasnya, hoho

Singkat cerita, maka dipilihlah judul tulisan seperti di atas. Itu karena terkadang orang kuliah agak kurang kerjaan memang, menghitung water footprint beras sekilo jika air yg digunakan adalah air kemasan (harga air kemasan paling murah Rp 3.000,- per liter). Sehingga untuk mendapatkan 1 kilo gram beras, kita harus membayar harga air kemasan untuk padi sebesar 8,4 juta, oww!

Tapi faktanya, ia-si padi tersebut hidup dengan mengandalkan kasih sayang Tuhan, Yang terus memberikan bermilyar butir air yg turun dari langit. Kemudian ia tumbuh dan memenuhi seluruh siklus hidupnya dan menghasilkan beras untuk kita. Dengan demikian, kita hanya perlu membayar “harga” beras-nya saja, dan bukan “harga” yg diperlukan padi untuk memenuhi siklus hidupnya sampai menghasilkan beras. Sebuah intangibel-kasih sayang Tuhan Semesta Alam bagi kita, penduduk “tanah surga”. Maka sudah menjadi suatu keharusan jika kita menambah syukur kita atas harga hidupnya si padi yg nggak perlu dibayar, ya baru padi ini dan masih banyak yg lain. Contoh lagi, sebuah pohon kopi memerlukan 22.907 kubik air selama siklus hidupnya, yg artinya hampir enam setengah kali yg diperlukan padi.

Masih ingat dengan sebutan tanah surga?

Valuasi-ekonomi Nusantara bahkan melebihi jumlah kekayaan negara berbiaya hidup tertinggi di dunia, berani hitung?

Itu kekayaan yg tiada tara nilainya. Karena merasa membayar gratis untuk tinggal di Indonesia, akan memaksa pikiran kita bermental miskin.

Maka sudah semestinya kita belajar untuk “merasa” kaya, sehingga akan hidup penuh syukur. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah menambah nikmat-Nya dengan memampukan kita untuk mengurus kekayaan tersebut, suatu hari.

Sekali terakhir, demikianlah valuasi ekonomi-beras. Kalau ada yg kurang tepat, semoga ada anak pertanian atau statistik, pun siapa saja yg sadar mengoreksi.

Pesan moralnya apa?

  1. Belilah duku dan manggis selagi ada, nggak perlu nawar juga nggak apa-apa, haha
  2. Peliharalah alam, karena hubungan kita dengannya ibarat bayi dengan kantung makanannya
  3. Habiskan nasi di piring makanmu ya :)
  4. Nikmatilah kopi, itu minuman yg “mewah” ternyata 😀

Selesai,

Salam dari Bogor-yg masih kota hujan.

Contoh surat permohonan pinjaman dana PKM

Assalamualaykum,

Berikut contoh surat permohonan peminjaman dana PKM :

contoh surat permohonan pinjaman dana PKM

 

semoga bermanfaat :)

Di setapak jalan kecil

di sepanjang jalan ini, telah banyak kusaksikan

telah kulihat dan kubuktikan,

terjalnya aral merintang,

membasuh dengan rayu dan menggugurkan

jika sampai waktuku, saat semua uji melepaskan anak panah,

arah tikam dan tak elakkan,

maka biarkan saja tinggalkan dengan diam

teruslah maju dan hentakkan,

betapa sunyi tidak cukup mencekam,

betapa sakit tak dapat menjatuhkan,

betapa perih tak pernah jerakan

sekalipun kecewa tapi tak akan jauhkan

bagaimanapun, keputusan sudah dipilih

saatnya berteguh hati

innallaha ma’anaa

Thinking about Life..

just one idea when I thinking about Life,

this beauty frame from fresh green gold is mercy of God to me, and also you

Subhanallah..

Life is the beauty one

Selasa, 27 September 2011 pukul 10.10 WIB

Hidup ini sungguh merupakan keindahan, meskipun fana namun ia tempat mengambil bekal sebuah perjalanan nan kekal.

Ada tiga hal yang hendaknya diketahui oleh para ‘kelana’ ini, tiga unsur yang menyusun material penunjang kehidupannya yaitu: tubuh, akal, dan hati.

Masing-masing  memiliki hak-hak untuk dipenuhi, maka lakukanlah agar tercipta keseimbangan dalam kehidupanmu.

Makanlah tepat pada waktunya, dengan makanan yang baik, sehat dan menyehatkan, cukupkan sebelum dirimu kenyang, tidak berlebihan dan tidak bersisa apalagi terbuang. Dengan demikian kau telah penuhi hak bagi tubuhmu.

Belajarlah segala macam ilmu yang semakin menyadarkanmu tentang hakikat kehidupan ini, mendekatkanmu kepada Sang Pencipta, membawamu kepada kebenaran dan memberikan manfaat kepada banyak orang. Dengan demikian kau telah memenuhi hak bagi akalmu yang dahsyat menampung segala macam ilmu dan informasi.

Hati adalah cermin bagi jiwa, pesona keindahannya, kilau bagai mutiara kehidupannya. Ialah muara segala ilmu untuk menjadi amal yang benar, karena dalam hati tempat bersembunyinya niat ikhlas. Namun ia pula tempat segala tipu daya bermula. Mensucikan hati, membersihkannya dari penyakit-penyakit duniawi, melatih diri menggunakan suara nurani, hanya dapat terwujud jika kau mau peduli. Peduli dengan kebutuhan rohani dan memenuhinya.

Dengan demikian kita mengenal istilah bagi olahraga, olahpikir, dan olahjiwa.

Hidup ini sungguh merupakan keindahan, indah jika kau mengetahui bahwa waktu memberikanmu kesempatan untuk berbuat yang terbaik dalam hidupmu. Demikianlah hidup,  kita dapat memilih untuk hidup maksimal dengan warna kebaikan ataukah biasa saja malah bahkan penuh hitam noda keburukan.

by: Endar Widiah

Halaman Berikutnya »